Guru Orientasi Akhirat-Tomi Wibisono


Guru Orientasi Akhirat
Oleh: Tomi Wibisono



Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang duduk, tabel dan dalam ruangan

Dalam dunia pendidikan sesederhana apapaun peran guru tak tergantikan, walaupun teknologi pembelajaran sudah sangat canggih. Disadaari tugas guru tidak saja memindahkan ilmu pengetahuan atau bahasa kerennya transfer of knowledge. Tugas guru lebih dari itu, yakni mengubah watak, menanamkan nilai dan menghunjamkan impian kepada para muridnya transfer of value. Tugas mewariskan nilai-nilai moral, karakter dan akhlak seperti itu sulit tergantikan walaupun oleh teknologi informasi yang tercanggih.

Posisi guru sangatlah penting, walau nasibnya belum dipentingkan oleh banyak kalangan, utamanya pemerintah. Guru masih menjadi komoditas politik apalagi menjelang suksesi kepemimpinan dan legislatif. Janji-janji mensejahterakan para pahlawan tanpa tanda jasa ini, melalui pemberian berbagai tunjangan dan fasilitas, pemberian beasiswa sampai kenaikan pangkat berlipat diketengahkan. Bagi sebagian guru, menganggapnya sebagai angin surga, tetapi sebagian yang lain itu hal yang biasa, momen lima tahunan, karena itu perilaku para politikus yang sedang mencari simpati. Kata yang pas digunakan adalah habis manis sepah di buang.

Untung masih ada guru-guru yang di pagi buta berangkat ke madrasah/sekolah, mendidik dengan serius, tulus tanpa pamrih, menjadi pemandu para muridnya agar mereka cerdas, cakap dan bermoral. Menjadi tempat berkeluh kesah bagi para murid yang tengah dilanda berjibun masalah, bahkan menjadi penyelesai konflik yang ada di masyarakat dimana dia tinggal. Karena dia sadar, tugas guru tidak sekedar mengajar, tetapi juga harus pandai-pandai menjalankan peran sosialnya (kompetensi sosial). Inilah guru pejuang, yaitu mereka yang idealis, yang bekerja demi masa depan bangsa tanpa kenal lelah.

Dia tidak pernah berfikir datang ke madarsah untuk mendapatkan sesuatu yang bersifat material, karena mengajar dan mendidik bagi dia adalah pekerjaan mulia. Mendidik adalah tidak sekedar kewajiban, tetapi sebuah kebutuhan naluriah, panggilan jiwa yang bernilai perjuangan dan ibadah. Kedengarannya aneh, klise dan sok heroik di zaman yang serba matreliastis dan pragmatis seperti sekarang ini. Namun guru-guru yang masuk katagori ini masih banyak, utamanya dikalangan madrasah dan pondok pesantren, yang tinggal jauh dari keramaian.

Relevan apa yang dikatakan Robert Greenleaf, pemikir dari Amerika (1970) dengan teorinya servant leadership yaitu individu yang memerankan fungsi tertentu dalam sebuah organisasi dengan pengabdian total. Bahkan tanpa mempertimbangkan apakah memperoleh kompensasi atau tidak. Terori servant leadership menempatkan pelayanan publik sebagai hal utama dan pertama dilakukan. Dan itu telah diperankan oleh para guru pejuang tanpa pamrih kendatipun mengalami keterbatasan.


Comments

Popular posts from this blog

Taksonomi Bloom (Ranah Kognitif, Afektif, dan Psikomotor) serta Revisi Taksonomi Bloom

KONSEP KURIKULUM TAHUN 1950-an (1952), 1968, dan 1975 -Telaah Kurikulum