Guru Orientasi Dunia-Artikel


Guru Orientasi Dunia
Oleh: Tomi Wibisono


 Tomi Wibisono_Berhitung untung dan rugi dalam menjalani tugas sebagai seorang guru sungguh tidak pantas. Bagi guru tipe matre, mengajar adalah suatu beban dan kewajiban yang harus dibayar. Mengajar harus dapat imbalan materi, jauh dari pengorbanan dan perjuangan.

Guru-guru sederhana telah tertutup oleh model guru materislistik. Mereka nyaring menyuarakan nasib dan kepentingannya, di atas mimbar-mimbar demonstrasi, atas nama profesionalitas, mengejar imbalan yang layak dan atas nama profesi juga harus mendapatkan haknya. Sementara model guru pejuang yang idealis, tertutup oleh meja-meja seminar, tidak ingin populer dan bersembunyi sibuk dengan urusan menjadikan anak Indonesia baik, cerdas dan
penyongsong peradaban. Di keheningan malam, mereka mendoakan para muridnya yang nakal-nakal agar menjadi anak baik, mendoakan agar mereka pintar dan ilmunya bermanfaat untuk bekal di masa depannya.

Apapaun yang terjadi, pemerintah harus mempunya komitmen yang tinggi (good will), untuk membenahi pendidikan dari sisi guru. Bagaimana mereka ditingkatkan kapasitasnya, dicukupi fasilitasnya, dan disejahterakan hidupnya, sehingga mereka konsisten (istiqamah) mengabdi dan berkhidmah dalam dunia pendidikan. Lambat laun model guru pragmatis seperti di atas, akan berkurang dan digantikan oleh guru pejuang atau guru idealis baik ada tunjangan maupun tidak ada tunjangan atas profesinya. Ini bukan masalah mudah dan sederhana, tetapi membutuhkan kemauan dan komitmen kuat bagi para pemegang kebijakan pendidikan di negeri dengan 250 juta penduduk.

Selain itu mungkin ada kebijakan jaminan dana pensiun bagi guru-guru swasta yang mekanismenya dapat dibicarakan lebih lanjut dengan pihak yang berkompeten. Dan berbagai program lain yang muaranya adalah mensejahterakan guru. Anggaran pendidikan nasional harus mampu dikelola dengan baik, salah satunya untuk para pendidik dan tenaga kependidikan. Tentu saja diimbangi dengan meningkatnya profesionalitas guru dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pendidik dan pengajar. Peningkatan kapasitas melalui studi lanjut dengan beasiswa, pendidikan dan latihan guru, shoort cours capacity building dan lain-lain harus menjadi prioritas.

Mengajar adalah panggilan jiwa, bukan sekedar mengisi waktu kosong, apalagi menghilangkan predikat pengangguran. Karenanya profesi guru, harus dihargai dan di junjung tinggi agar guru-guru yang ada tetap mempunyai jiwa dan watak pejuang, pengabdi, dan penggerak masyarakat. Itu semua kembali kepada para guru itu sendiri dan kemauan baik pemerintah ditengah kompleksitas persoalan yang menderanya.

Comments

Popular posts from this blog

Taksonomi Bloom (Ranah Kognitif, Afektif, dan Psikomotor) serta Revisi Taksonomi Bloom