Psikologi Afektif Manusia Sebelum Taklif
Psikologi Afektif Manusia Sebelum Taklif
Oleh: Tomi Wibisono
| Sumber: www.anak+belum+baligh.id |
Taklif merupakan waktu
dimana seseorang dibebankan sesuatu, dalam hal ini adalah dibebankan
hukum-hukum dalam syariat Islam. Waktu tersebut ditandai dengan seorang wanita
apabila sudah menstruasi (haid) dan laki-laki bila sudah mimpi basah. Itu
merupakan tanda-tanda primer untuk mengetahui seseorang laki-laki atau
perempuan sudah balig atau belum.
Selain tanda-tanda
primer tersebut tanda-tanda lain yang mendukung (sekunder) adalah bagi
perempuan bila payudaranya mulai menonjol, suaranya mulai berubah, rambutnya
mulai berminyak, tumbuhnya rambut di sekitar kemaluan dan ketiak, badan mulai
mengeluarkan bau yang kurang sedap yang berasal dari keringat, serta mulai
merasakan dorongan ketertarikan kepada lawan jenisnya.
Sementara bagi
laki-laki juga hampir sama dengan yang dialami oleh perempuan, yaitu di sekitar
kemaluan mulai ditumbuhi rambut, adanya perubahan pada suara, jakun mulai
kelihatan, bila berkeringat menimbulkan bau badan yang kurang sedap, mulai
tertarik kepada lawan jenis, rambut kelihatan berminyak, serta otot-otot badan
mulai mengekar dan terlihat kuat secara fisik.
Masa remaja dikenal
oleh Psikologi Barat sebagai masa storm and stress (topan dan badai). Menurut
Psikologi Barat pada masa ini selalu ditandai dengan gejolak di dalam jiwa. Sehingga pada masa remaja sering terjadi berbagai pelanggaran
yang dilakukan oleh anak-anak remaja. Misalnya pada masa remaja anak mulai
berani membangkang kepada perintah orang tua, mulai terlibat perkumpulan
geng-geng liar, mulai sering pulang malam, terlibat narkoba, pergaulan bebas,
dan prestasi belajar di sekolah yang ambradul.
Ketika kita melihat
masa remaja dari perspektif keilmuan Islam, maka ditemukan bahwa di dalam Islam
ternyata tidak mengenal konsep remaja. Dalam tahap-tahap perkembangan yang dijelaskan
dari dalil-dalil Al-qur’an yang terdapat dalam surat Al Mukmin.
هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَكُم
مِّن تُرَابٖ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٖ ثُمَّ مِنۡ عَلَقَةٖ ثُمَّ يُخۡرِجُكُمۡ طِفۡلٗا
ثُمَّ لِتَبۡلُغُوٓاْ أَشُدَّكُمۡ ثُمَّ لِتَكُونُواْ شُيُوخٗاۚ وَمِنكُم مَّن
يُتَوَفَّىٰ مِن قَبۡلُۖ وَلِتَبۡلُغُوٓاْ أَجَلٗا مُّسَمّٗى وَلَعَلَّكُمۡ
تَعۡقِلُونَ ٦٧
Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari
setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu
sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada
masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu
ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai
kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). (QS. Al-Mukmin [40] : 67).
Jelas di dalam ayat di
atas di sebutkan bahwa tahap-tahap perkembangan manusia adalah dari tanah,
kemudian menjadi mani, setelah itu menjadi segumpal darah, kemudian lahir
menjadi seorang anak, lalu menjadi dewasa, selanjutnya menjadi tua. Dalam
keterangan dalil-dalil yang lain baik melalui Al-Qur’an maupun hadis Nabi
Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dapat disimpulkan pada masa sejak manusia mulai
lahir biasa disebut dengan bayi, kemudian anak-anak awal (thifl), selanjutnya
anak-anak akhir (ghair tamyiz), fase tamyiz (anak mulai bisa membedakan antara
yang baik dan buruk), fase amrad (kira-kira umur 10-15 tahun), fase taklif
(menerima beban syariat), fase futuh (kebijaksanaan). Walaupun para ahli
perkembangan dari kalangan ilmuwan Muslim memiliki klasifikasi yang
berbeda-beda mengenai tahap-tahap perkembangan manusia, setidaknya secara umum
gambaran perkembangan manusia adalah seperti yang dipaparkan tadi.
Sesuai dengan konsep
perkembangan Islam, maka tidak ada storm and stress ketika seseorang menginjak
usia remaja (baligh). Sebab menurut konsep pendidikan Islam sebelum anak
mencapai usiah balig sudah dipersiapkan dengan dididik mengenai kewajiban dan
tanggungjawabnya kelak.
Comments
Post a Comment