Pendidikan Bukan Sangkar (Zaman Now)



ARTIKEL ILMIAH


Pendidikan Bukan Sangkar (Zaman Now)
Oleh: Tomi Wibisono

Pendidikan merupakan kewajiban bagi semua orang, terlepas dari pendidikan yang bersifat formal ataupun informal. Sekolah bukan satu-satunya untuk meraih pendidikan, bukan juga sebatas lingkungan sekolah dan kampus. Pendidikan bertujuan mencerdaskan manusia dari kebodohan dan kemiskinan dari penindasan, maupun perbudakan. Pendidikan yakni sesuatu yang dapat membebaskan, tidak terkekang dalam kandang seperti seekor burung di dalam sagkarnya. Pendidikan adalah suatu hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan setiap manusia. Dari pendidikan seseorang akan belajar menjadi seorang yang berkarakter dan mempunyai ilmu pendidikan serta sosial yang tinggi.
Indonesia termasuk negara yang mempunyai tingkat kelahiran yang tinggi di mana generasi muda adalah harapan bangsa untuk mengembangkan negara ini, dengan harapan mereka juga meraih pendidikan setinggi-tingginya. Tapi di era globalisasi telah mengubah cara berpikir masyarakat yang cenderung meninggalkan budayanya sendiri. Maka dari itulah pendidikan menjadi penting pada zaman ini.
Pendidikan merupakan salah satu faktor penting, karena dengan pendidikan kewibawaan sebuah negara didapatkan. Dengan pendidikan yang baik akan melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan kompeten dalam bidangnya. Sehingga kondisi bangsa akan terus mengalami perbaikan dengan adanya para penerus generasi bangsa yang mumpuni dalam berbagai ilmu.
Namun jika melihat pendidikan saat ini, sungguh jauh dari bentuk idealnya. Pendidikan tidak lagi mencerdaskan dan membebaskan manusia, melainkan mengurung pikiran dalam sebuah kotak, memperbodoh dan memperbudak secara sukarela. Di sekolah-sekolah, pendidikan hanya mengejar nilai-nilai untuk menentukan kenaikan ataupun kelulusan melalui tes atau ujian. Padahal ujian terkadang tidak mencerminkan kemampuan para murid yang tiap saat berubah.
Selain tes atau ujian untuk sekadar mencari angka, pendidikan sekarang juga mengajarkan individu untuk menjadi buruh terdidik, menaati perintah atasan dan hanya mengajarkan keterampilan praktis. Tidak berbeda jauh dengan robot yang di program untuk hanya melakukan suatu kegiatan atau gerakan demi terhiburnya monoton. Pendidikan yang seharusnya membebaskan telah berubah menjadi sesuatu yang mengekang manusia, tidak mampu berpikir kritis karena terjebak dalam sebuah masalah yang diajarkan sedari kecil ataupun dalam kehidupan bermasyarakat kita.
Dari beberapa hal tersebut, maka intelektual menjadi derajat tertinggi saat ini. Selain itu yang tidak kalah memperihatinkan dari derajat tersebut yakni perlakuan hormat kepada atasan. Tampaknya hal seperti ini belum hilang dalam stigma orang tua ataupun praktisi pendidikan. Kehormatan terkadang dipaksakan untuk meraih suatu pandangan derajat yang tinggi. Akibatnya jika murid tidak berhasil dalam meraih kehormatan tersebut, akan dikucilkan dari masyarakat karena dianggap gagal, dan orang tua biasanya akan merasa sangat malu akan hal tersebut.
Bermacam fenomena yang terjadi tersebut sungguh membuat pendidikan di Indonesia seperti sangkar. Pendidikan yang seharusnya dinikmati oleh semua kalangan, namun nyatanya hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang pintar dan ber-uang. Mendaftar sekolah akan ada seleksi atau tes untuk dapat masuk. Jika di tanya alasannya, adalah untuk menjaring murid-murid berkualitas, jadi sekolah tinggal mengembangkan potensi tanpa harus bersusah payah merekonstruksi murid yang belum bisa secara akademik. Setelah terdaftar dalam instansi pendidikan tersebut, murid-murid akan ditunggu oleh beragam biaya yang jumlahnya tidak sedikit. Biasanya biaya tersebut selaras dengan pilihan prosesi atau jurusan pendidikan yang dipilih.
           Semoga  artikel ini dapat membantu dan memberikan pengetahuan baru untuk pembaca yang budiman. Penulis minta maaf apabila ada kekeliruan dalam penulisan artikel dan tata bahasa yang kurang benar. Terakhir, semoga artikel ini bermanfaat.
            Terima Kasih.


Kota Pahlawan, 13 September 2018 

 Penulis,


Comments

Popular posts from this blog

Taksonomi Bloom (Ranah Kognitif, Afektif, dan Psikomotor) serta Revisi Taksonomi Bloom