Kegiatan Mengajar Ngaji di TPQ Nurul Jannah- Jabung Wetan, Paiton, Probolinggo



SANTRI YANG MENYANTRIKAN



Seorang guru da’i harus mempunyai ilmu yang luas. Dari mulai ilmu agama, ilmu sosial, dan ilmu pegetahuan. Untuk itulah STKIP Al Hikmah Surabaya didirikan dengan mempunyai visi serta misi yang besar demi mencetak guru-guru pejuang dan da’i yang berkualitas di masa yang akan datang. Beberapa program pun seperti KKN di libur semester menjadi tugas wajib bagi setiap Mahasiswa STKIP Al Hikmah Surabaya. Program ini tentu menjadi progres yang efektif untuk
membentuk karakter seorang pendidik.

Pada libur semester ini, seluruh mahasiswa angkatan dua sampai angkatan ke empat ditugaskan untuk mengisi liburan dengan mengajar di TPQ terdekat. TPQ yang akan saya gunakan sebagai tempat untuk belajar dan mengajar ngaji adalah TPQ Nurul Jannah, Paiton, Probolinggo. TPQ ini adalah tempat pertama kali saya belajar membaca dan menulis Al-quran. Sekaligus rumah kecil Allah SWT yang akan menjadi jalan saya menuju ke surganya kelak. Aamiin.. 

Teringat tujuh tahun lalu saya masih menjadi santri di TPQ ini. Yakni saat saya dibangku SMP kelas tujuh. Waktu yang cukup lama. Saya juga jarang bertemu dengan Ustaz Ahmad (guru ngaji) di rumah. Pun saat saya berangkat kuliah belum sempat berpamit kepada beliau. Beliau yang pertama kali mengenalkan huruf Al-quran kepada saya. 
Sabtu sore saya coba mendatangi ke kediaman beliau, meminta izin untuk belajar dan mengajar ngaji di TPQ.

“Assalamu’alaikum...” salam saya di depan pintu rumah Ust. Ahmad.
“Wa’alaikumsalaam. Mpian le, bileh se deteng? Mak jen genteng mangken, bedeh napah kakanjeh?”
(kamu le, kapan datang ? tambah ganteng sekarang, ada apa kok kesini?” Ujar beliau.
“Alhamdulillah Ustad, kuleh pleman dinah sabtuh sabben pon. kuleh kanjeh ngarep minttaah izin, kule e amanahi kampus soro ngajer ngajih ning kanjeh”
(Alhamdulillah Ustad, saya pulang hari sabtu kemarin. Saya kesini mau minta izin dapat amanah dari kampus untuk mengajar ngaji disini). Jawabku dan salim kepada beliau sembari meminta izin untuk mengajar ngaji di TPQ.
“Ooo.. Enggi pon le tak penapeh, bileh se mulei ngajere mpian?”
(Oh iya sudah le monggo tidak apa-apa. Kapan mau mulai nagajar)
“Enggi Ustad kaso’on, Insyaallah mule malem mangken”.
(Iya Ustaz terima kasih, Insyaallah mulai malam ini)
  “Enggi pon, tak becot geluh le wa makle gebeiagi kopi bik bebe’en ?”.
(Iya wes, gak mau masuk dulu le biar di buatkan kopi sama bibinya )
“Bunten pon , Kaso’on Ustad. Kule plemanah , Assalamu’alaikum”
(Tidak usah Ustaz, terima kasih. Saya pamit pulang dulu). Jawab saya dan mencium tangannya.
“Wa’alaikumsalam”.

Usai bercakap dengan beliau, saya langsung pulang dan menunggu waktu sore untuk mulai mengajar di TPQ Nurul Jannah. Pukul 17.00 WIB saya bergegas ke TPQ, rupanya para santri sudah banyak yang berdatangan. Setibanya saya di depan pintu, mereka bergrumulan berebut salim. Saya terkagum, memang saat saya menjadi santri di TPQ ini sudah di ajarkan takdim kepada guru, terlebih kepada orang yang lebih tua daripada kita. 

“Mas Tomii.. Ustad Tomii...” Panggilan santri kepada saya ketika saya bersahut sapa dengan mereka. Mereka terlihat senang dengan kedatangan saya disana. Tentu kesenangan mereka menjadi semangat saya untuk mengajar di TPQ ini. Usai solat maghrib, saya di amanahi oleh Ust. Ahmad untuk mengajar santri yang usianya berkisar 4-5 tahun. Tentu hal ini tidak mudah, karena saya harus bisa merayu dan terus bersikap lembut supaya mereka mau belajar dengan saya. Alhamdulillah, mereka semua antusias dan semangat untuk belajar mengaji. Sampai-sampai ada salah seorang santri yang tidak mau bergilira bergantian dengan teman di sebelahnya. Sungguh hal ini menjadi paradigma serta semangat saya untuk menjadi lebih baik lagi kedepannya.





Comments

Popular posts from this blog

Taksonomi Bloom (Ranah Kognitif, Afektif, dan Psikomotor) serta Revisi Taksonomi Bloom

KONSEP KURIKULUM TAHUN 1950-an (1952), 1968, dan 1975 -Telaah Kurikulum